Sunday, 14 February 2010

Bermain Peran

Anak-anak sangat senang bermain peran (alias main pura-puraan/jadi-jadian). Bermain peran adalah bentuk permainan di mana seorang anak dapat menjadi apa saja yang memiliki seperangkat perilaku tertentu yang unik, seperti guru, dokter, polisi, tentara dan juga orang tua.

Bermain peran merupakan salah satu aktivitas yang penting bagi pertumbuhan anak karena dapat mengembangkan beragam potensi yang terdapat dalam diri sang anak.

Kata pakar pendidikan Prof Dr.Arief Rachman. "Bermain peran adalah hal yang penting bagi seorang anak karena dapat mengembangkan potensi spiritual, emosional, intelektual, sosial, dan juga fisiknya,"

Ada dua jenis bermain peran, yaitu mikro dan makro.
Bermain peran mikro, anak-anak belajar menjadi sutradara, memainkan boneka, dan mainan berukuran kecil seperti rumah-rumahan, kursi sofa mini, tempat tidur mini (seperti bermain boneka barbie). Biasanya mereka akan menciptakan percakapan sendiri.

Dalam bermain peran makro, anak berperan menjadi seseorang yang mereka inginkan. Bisa mama, papa, tante,polisi, sopir, pilot, dsb.

Saat bermain peran ini bisa menjadi ajang belajar bagi mereka, baik belajar membaca, berhitung, mempelajari proses/alur dalam mengerjakan sesuatu, mengenal tata tertib/tata cara di suatu tempat, yang semua ada dalam kehidupan nyata. Anak-anak juga belajar berdiskusi dengan teman yang lainnya, belajar kerjasama dan mengeluatkan pendapatnya. Dan saat bermain peran saya sebagai guru bisa melihat secara jelas, masing-masing kepribadian anak.

Dalam beberapa hal bermain peran dapat digunakan untuk memotivasi atau mengubah perilaku anak-anak.Selain itu pula tidak membutuhkan banyak biaya.

Di kelas saya, kami lagi senang-senang nya bermain peran, yang pertama saya lakukan adalah membagi kelompok dan anak-anak di bebaskan untuk memilih apa tema bermain perannya. Setelah berdiskusi,masing-masing kelompok untuk memainkan perannya di depan kelompok lainnya.

Selain pertunjukan bermain peran. Proses Diskusi adalah hal yang paling menyenangkan untuk saya amati, karena dari diskusi ini saya melihat anak-anak belajar mengeluarkan pendapatnya, belajar berempati menerima pendapat temannya, belajar menyamakan satu visi dan misi, belajar bekerjasama dan selain itu juga ekpresi serta gaya mereka yang lucu – lucu saat berdiskusi.